Amat sedikit orang tua yang mampu mendidik anaknya dengan baik.  Kesibukan rumah tangga dan terbatasnya ilmu yang dimiliki, menjadi kendala untuk mengantarkan anaknya menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan luas.  Inilah diantara yang menyebabkan mereka memilih dan menyerahkan putra-putrinya ke sebuah lembaga pendidikan.

Pentingnya Pendidikan Bagi Individu dan Umat


Manusia diciptakan oleh Alloh SWT sebagai Khalîfah fil Ardli (pemimpin di permukaan bumi) yang dituntut menerapkan hukum-hukum dan perintah-Nya).  Maka Alloh SWT menjadikan manusia dalam susunan yang sempurna,  disertai kemampuan, dan berbagai kelebihan dibanding makhluk yang lain.

Namun demikian, kadangkala manusia menjadi sosok yang cenderung pada hal-hal yang negatif, hingga turun martabat mencapai derajat yang amat rendah.  Manusia semacam ini sungguh sangat sesat, bahkan lebih sesat daripada binatang ternak.  Alloh berfirman :


و لقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن و الإنس لهم قلوب لا يفقهون بها و لهم أعين لا يبصرون بها ولهم ءذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغاقلون

Artinya : Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. (7) Al A’raf : 179)

Dibalik kesempurnaan penciptaan yang yang dianugerahkan Alloh SWT kepada manusia, pada masa tertentu terkadang manusia jatuh pada titik terrendah dalam keimanan dikarenakan mengikuti hawa nafsu dan menuruti bisikan setan, sehingga dalam kondisi ini keadaannya menjadi lemah, lalai, dan mudah termakan tukang penyeru kesesatan sehingga semakin jauh dari kebenaran.

Namun demikian, pada hakikat dasarnya dalam relung hati manusia itu menyadari atas kepemilikan naluri serta fitroh, yang sesungguhnya fitrah itu selalu senang dan cinta pada kebaikan, hingga dengan bantuan petunjuk serta kasih sayang Alloh, ia berupaya dan berusaha untuk kembali kepada fitroh yang murni, yang pada akhirnya mengembalikannya kepada tingkat keimanan yang lebih tinggi.  Kebajikan dan atas kemurahan serta karunia Alloh pula dalam hal ini memberikan jalan keluar bagi mereka yang terperosok dalam kesesatan dan kerugian.  Jalan tersebut dijelaskan oleh Alloh dalam bentuk pengecualian yang singkat, padat, dan mantap, sebagaimana firman-Nya :


...إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya : …“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. (103) Al Ashr : 3)
ماَ مِن مَوْلُودٍ إِلاّ يوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ (رواه مسلم)
Artinya : “ Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini), melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah) (HR. Muslim)

Sesungguhnya agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia.  Sedangkan kejadian itu tidak berubah-ubah, sekiranya dibiarkan berfikir yang waras, niscaya pada akhirnya manusia itu akan sampai pada agama Islam”

“….Al Qur’an adalah himpunan dari wahyu yang merupakan tuntunan yang dihajatkan oleh fitroh  manusia “ 
Dua pernyataan di atas, bisa menjadi penegas dari hadis Rasululloh SAW tentang fitrah manusia.  Dari sini jelas bahwa fitrah manusia selalu cenderung pada kebaikan (Islam).  Tanggungjawab terhadap pemeliharaan fitrah manusia dibebankan oleh All SWTkepada kedua orang tua sejak manusia itu lahir.  Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis :


كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبوَاهُ يهَوِّدَانِهِ أَوْ ينَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه اللخارى)

Artinya : “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu-bapaknyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi”. (HR. Bukhari)

Telah terbukti bahwa pembinaan anak dalam keluarga mempunyai pengaruh yang sangat kuat, apalagi pendidikan oleh seorang ibu.  Bila ibu/orang tua memberikan pelajaran yang buruk maka otomatis anak akan berbuat buruk sesuai apa yang ia dapat dari orang terdekatnya.   Baik buruknya seorang anak akan banyak bergantung pada pendidikan orang tua,  apakah anak itu berada dalam fitrah, atau justru akan menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. 

Amat sedikit orang tua yang mampu mendidik anaknya dengan baik.  Kesibukan rumah tangga dan terbatasnya ilmu yang dimiliki, menjadi kendala untuk mengantarkan anaknya menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan luas.  Inilah diantara yang menyebabkan mereka memilih dan menyerahkan putra-putrinya ke sebuah lembaga pendidikan.

Perjalanan zaman ke arah modernisasi dalam segala bidang, dengan segala kecanggihan teknologi dan memuncaknya peradaban manusia, ternyata menyisakan berbagai problematika kebodohan di satu sisi, dan penyebaran kemungkaran secara massif di sisi lain, kondisi demikian menyebabkan diabaikan pelestarian fitroh manusia bahkan dirusak dan lebih celaka lagi manusia tidak lagi memandang penting terhadap urusan ini.  Maka tumbuh subur kemungkaran, penyelewengan akidah, serta budaya kesyirikan di tengah masyarakat, baik di kalangan tua maupun muda, bahkan merambah ke dunia anak dan remaja; seperti pergaulan bebas, perilaku seks bebas, hura-hura, pesta-pesta kemaksiatan, dsb) 

Perlu disadari bahwa, pada mulanya perilaku amoral ini berlaku hanya di negeri-negeri kafir, namun demikian karena kebodohan umat, kemaksiatan ini menjalar tidak terkecuali ke negeri kita yang kemudian lebih dikenal dengan istilah “kumpul kebo”.  Di sisi lain, tingkat pengangguran meningkat, berita kriminal tidak lagi asing didengar, perjudian dianggap permainan yang wajar bahkan ada kesan pembiaran, demikian juga pelacuran, korupsi menjadi kebiasaan.  Maka kondisi moral yang sedemikian parah itu akan memuculkan dampak kerusakan yang lebih besar di masa depan, dan dikhawatirkan akan mengundang lebih cepat datangnya bencana, wal ‘iyâdzu billâh.

Perilaku egoisme serta individualisme (mementingkan diri-sendiri) hampir-hampir meracuni tiap individu dalam masyarakat.  Dalam benak mereka sama sekali tidak terdetik bagaimana sengsaranya para fakir, miskin, serta orang kesusahan.  Mereka hanya berprinsip “asal saya bisa hidup dan bersenang-senang, masa bodoh dengan orang lain”.

Dalam menghadapi kondisi apapun, Islam telah memberikan jalan keluar tarbaik untuk meletakkan posisi roh manusia pada titik poinnya, yaitu dengan jalan islahul aqidah, islahul ibadah, dan islahul akhlak.  Dengan cara pendekatan diri kepada Alloh SWT melalui tuntunan Rasululloh SAW maka manusia akan terbimbing pada jalan yang lurus dan benar.  Di kala itu, manusia sebagai makhluk yang tidak lepas dari lupa dan alpa, akan senantiasa mawas diri dan berupaya untuk tidak jatuh ke dalam lembah yang hina.  Ia akan selalu mengoreksi diri, apa yang salah pada dirinya, apa yang kurang pada amaliyahnya.  Sebagai suatu misal, tatkala ia melakukan kemaksiyatan, dengan serta merta ia kembali kepada jalan Alloh serta mengoreksi apa yang salah pada ibadahnya, apa hal-hal yang mengotori akidahnya.  Sebab jika ibadahnya benar, akidahnya bersih dari noda kesyirikan, pastilah akan menyeruak amal dan perbuatan yang baik adanya, sebagai buah dari kebenaran fitroh yang ia sandang itu.  Maka dengan demikian perlu adanya islahun nafsi (renovasi diri) melalui tiga faktor di atas.

Dalam mewujudkkan tiga hal  tersebut, perlu adanya bi’ah (lingkungan) dimana fitrah manusia bisa dipelihara dan dimonitor.  Dalam bi’ah yang seperti ini dengan kesadaran atau terpaksa, fitrah akan terbiasa melakukan hal-hal yang positif, maka upaya terbaik adalah bagaimana mewujudkan bi’ah yang diharapkan itu.

Realitanya, pendidikan dan pengajaran pada umumnya yang berlaku hanya menghabiskan waktu antara pukul 07.00 – 13.00 (+ 1/3 bagian waktu efektif tiap hari), itupun hanya dihabiskan untuk pembelajaran yang tidak terkait langsung pada pemahaman agama yang benar.  Setelah itu, peserta didik sudah di luar kontrol pendidikan dan bergaul dengan masyarakat luas.  Jika lingkungan masyarakat tempat bergaul dalam kondisi baik, tentu tidak masalah.  Namun jika sebaliknya, maka anak akan terpengaruh hal negatif, karena apa yang dilihat, didengar, dirasa, dan yang terbaca tidak dalam posisi tepat pada suatu titik fitrohnya yang suci yaitu Islam.  Untuk itu, maka pendidikan Pondok Pesantren Al Mukmin tidak menggunakan sistem pendidikan pada umumnya, tetapi memilih sistem pendidikan pesantren, yang merupakan sarana yang dianggap dan diyakini mampu untuk mewujudkan hal itu.  Memang banyak orang yang meragukan dan tidak percaya, bahkan tidak senang dengan pendidikan pesantren.  Namun kenyataan tidak dapat dipungkiri, bahwa pesantren merupakan salah satu wadah/model terbaik dalam mendidik, membina, dan melestarikan fitrah manusia, bahkan bisa dianggap sebagai benteng utama pertahanan masyarakat Islam.  Maka tidak mengherankan jika akhir-akhir ini, model pendidikan pesantren telah diadopsi banyak lembaga pendidikan hingga muncul model sekolah full day, sistem terpadu, dll.

Selain itu, pesantren merupakan tempat pengaderan untuk mencetak ulama’ yang saat ini keberadaannya semakin langka.  Terlebih lagi realita menunjukkan bahwa sebagai akibat semakin langkanya ulama, orang berilmu semakin sedikit, kebodohan tentang Al Qur’an dan Sunnah (syariat Islam) semakin merajalela.  Hal ini sesuai betul dangan sinyalir Rasululloh SAW  pada empatbelas abad silam :


إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ , وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ , وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ "

Artinya : “Sesungguhnya menjelang hari kiamat kelak, akan ada hari-hari yang diturunkanya kebodohan dan diangkatnya ilmu, dan banyak ‘haraj’ (pembunuhan) (HR. Bukhari)

Munculnya kebodohan yang merajalela di masyarakat, bukan karena hapusnya suatu ilmu (dengan tiba-tiba), akan tetapi karena wafatnya para ulama, sementara tidak ada generasi pengganti dan pelanjut estafetnya.  Tersebut dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim :


إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالا ، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا ، وَأَضَلُّوا (رواه البخاري)

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu langsung(dengan sekonyong-konyong) dari para hamba, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.” (HR. Al-Bukhari-Muslim)

Zaman munculnya kebodohan tersebut kini sudah nampak jelas dengan wafatnya para ulama yang mumpuni, demikian terus-menerus tanpa ada pengganti yang sepadan dan seimbang.  Selain itu, karena mandegnya pengaderan, adanya sebagian ulama meninggalkan fungsi keulamaannya, sementara ulama yang bertahan dalam fungsinya rata-rata dalam kondisi usia lanjut.  Maka menyikapi keadaan ini harus ada upaya dan usaha demi kesinambungan estafet generasi ulama. 

Di lingkungan masyarakat dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, kebutuhan terhadap ulama sangat mutlak diperlukan dan dibutuhkan baik masyarakat yang relatif maju maupun berkembang, terlebih lagi saat ini berbagai macam kebodohan menyebar seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, adanya sekelompok masyarakat yang konsen dan memiliki kepedulian serta bersemangat untuk mempelajari agama, perhatian di bidang penelitian dan pendalaman agama, serta realita atas munculnya bermacam persoalan yang dihadapi umat Islam dewasa ini.

Kondisi melemah/krisisnya keberadaan ulama, tidak boleh menjadikan umat Islam bertopang dagu, meratapi keadaan, dan berputus asa.  Tetapi justru seharusnya menggugah dan membangkitkan samangat untuk berusaha secara serempak mengatasi keadaan sebelum kondisinya semakin parah, khususnya di dalam pendidikan dan pengajaran serta penggalian ilmu.  Sebagaimana seruan Rasululloh SAW dalam Hajjatul Wada’ :


رواه أحمد والطبرانى من حديث أبى أمامة قال : لما كان في حجة الوداع قال النبي  : خذوا العلم قبل أن يقبض أو يرفع، فقال أعرابى : كيف يرفع ؟ فقال : ألا إن ذهاب العلم ذهاب حملته.

dari Abu Umamah r.a, Rasululloh SAW  bersabda : “Pelajarilah ilmu sebelum ia dipunahkan atau diangkat.’ Kemudian bertanyalah seorang Badui: “Bagaimana ilmu itu diangkat?' Jawab Baginda NABI SAW : ‘Ketahuilah, bahwa punahnya ilmu itu dengan punahnya Ulama (orang yang menguasai ilmu tersebut )

Hadis di atas merupakan penegasan bahwa umat Islam diperintahkan mempergunakan kesempatan untuk mengambil, memelihara, dan melestarikan ilmu, sebelum ilmu tersebut hilang dan dicabut, yaitu wafatnya para pemilik/ pembawa ilmu yakni para ulama.

Go to top